Pendapatan Sekolah Stata Belum Stabil, Tapi Kenapa Tetap Jalan? - Mas Rohman | Peneliti

Pendapatan Sekolah Stata Belum Stabil, Tapi Kenapa Tetap Jalan?

Pendapatan Sekolah Stata Belum Stabil, Tapi Kenapa Tetap Jalan?

Halo, aku Rohman. Dan iya, aku mau jujur dari awal: pendapatan Sekolah Stata sampai hari ini belum stabil. Ada bulan yang lumayan, ada bulan yang sepi. Ada produk digital yang laku, tapi nggak rutin. Ada kelas yang penuh, tapi ada juga yang harus ditunda. Terus pertanyaannya wajar banget:

“Kalau belum stabil, kenapa nggak berhenti dulu?”
“Kenapa tetap lanjut?”

Aku paham pertanyaan itu. Bahkan, aku sendiri sering nanya itu ke diri sendiri.

Realita Pertama: Bangun Edutech Itu Bukan Jalan Tol

Banyak orang lihat edutech dari luarnya aja: konten rapi, kelas jalan, logo bagus, testimoni muncul. Padahal di belakang layar, realitanya: mikirin cashflow tiap bulan, ngerjain admin, keuangan, konten, CRM, sampai sales, bareng-bareng ngatur jadwal ngajar sambil tetap riset dan kerja profesional.

Sekolah Stata nggak langsung besar. Dan jujur aja, nggak pernah ada fase “wah, aman nih”. Tapi justru dari situ aku belajar:

yang bikin bertahan bukan angka, tapi alasan kenapa dimulai.

Sekolah Stata Lahir Bukan Karena Peluang, Tapi Kegelisahan

Sekolah Stata lahir karena aku resah. Resah lihat:

  • mahasiswa takut sama statistik
  • riset jadi formalitas
  • data dipakai cuma buat laporan, bukan buat mikir
  • software statistik dianggap “alat sakti”, bukan alat berpikir

Aku lihat terlalu banyak orang punya gelar, tapi:

  • nggak pede sama datanya sendiri
  • nggak bisa jelasin hasil analisis ke orang awam
  • bingung ngaitin angka dengan kebijakan atau realita

Sekolah Stata aku bangun bukan buat bikin orang jago rumus, tapi jago mikir pakai data. Dan kegelisahan itu belum selesai.

Pendapatan Belum Stabil, Tapi Dampaknya Sudah Nyata

Kalau ukurannya cuma uang, mungkin Sekolah Stata harusnya berhenti. Tapi kalau aku lihat:

  • alumni yang akhirnya berani riset sendiri
  • dosen yang bilang, “oh ternyata statistik bisa dijelasin sesederhana ini”
  • mahasiswa yang tadinya anti data, sekarang malah nagih belajar satu-dua produk digital yang dibeli bukan karena murah, tapi karena dipercaya

Itu semua nggak bisa diukur cuma pakai laporan keuangan. Belum stabil? Iya. Nggak mudah? Banget. Tapi sia-sia? Nggak.

Aku Lanjut Karena Sekolah Stata Bukan Proyek Cepat

Aku sadar satu hal penting: Sekolah Stata bukan sprint, tapi maraton panjang. Ini bukan:

  • proyek viral jualan instan
  • atau sekadar tren AI, data, dan statistik

Ini soal membangun cara berpikir. Dan itu butuh waktu.

Kalau hari ini pendapatan belum stabil, ya wajar. Karena:

  • kepercayaan itu dibangun pelan-pelan
  • ekosistem belajar itu nggak instan
  • kualitas itu mahal secara energi

Aku lebih takut cepat stabil tapi kehilangan arah, daripada pelan tapi tetap jujur sama tujuan awal.

Jadi, Kenapa Tetap Lanjut?

Jawabanku sederhana: Karena kalau Sekolah Stata berhenti sekarang, yang hilang bukan cuma pendapatan… tapi:

  • satu ruang belajar yang membumi
  • satu alternatif dari pendidikan yang kaku
  • satu tempat orang belajar data tanpa minder

Aku lanjut karena aku percaya ini perlu, meski belum sempurna, meski belum besar, meski belum stabil.

Penutup: Ini Bukan Kisah Sukses, Ini Catatan Proses

Tulisan ini bukan mau bilang:

“Aku hebat karena bertahan.”

Bukan. Ini cuma catatan jujur: bahwa bertahan sambil belajar itu valid. Bahwa belum stabil bukan berarti gagal. Bahwa pelan bukan berarti salah arah.

Kalau kamu lagi bangun sesuatu—usaha, riset, karier, atau mimpi— dan ngerasa belum sampai mana-mana, percaya deh:

kamu nggak sendirian. Aku juga masih jalan. Pelan. Kadang ragu. Tapi tetap jalan.

— Muhammad Abdul Rohman