Sekolah Stata Go to Tasikmalaya: Ketika Data IFLS Bertemu Semangat Akademisi UNSIL
Sekolah Stata Go to Tasikmalaya: Ketika Data IFLS Bertemu Semangat Akademisi UNSIL
Tasikmalaya, 16 Desember 2025. Ada rasa hangat setiap kali Sekolah Stata “turun gunung” ke kampus-kampus daerah. Tasikmalaya kali ini bukan sekadar titik di peta, tapi ruang belajar yang hidup. Bersama tim, kami berkesempatan mengisi In-House Training (IHT) di Universitas Siliwangi (UNSIL), dan jujur saja—energinya terasa sejak menit pertama.
Kami datang dengan satu misi sederhana tapi berat: membantu para dosen benar-benar berani memulai riset menggunakan Indonesia Family Life Survey (IFLS). Data besar, kompleks, longitudinal, dan sering kali bikin mundur sebelum mulai. Tapi justru di situlah tantangannya.
Antusiasme yang Mengingatkan Saya pada Awal-Awal Meneliti
Yang membuat saya terkesan, bukan hanya jumlah peserta, tapi kualitas diskusinya. Bahkan beberapa profesor muda dari Fakultas Agama Islam (FAI) UNSIL ikut duduk dari pagi sampai sore, membuka laptop, dan benar-benar hands-on. Tidak ada jarak senior–junior. Yang ada hanya rasa ingin tahu.
Ini mengingatkan saya pada masa awal meneliti dulu: rasa penasaran yang kadang lebih besar daripada rasa takut pada error di Stata.
Dua Sesi, Satu Tujuan: Riset Jalan, Bukan Sekadar Wacana
Pelatihan kami rancang singkat tapi padat. Jujur, dua jam itu selalu terasa kurang. Tapi justru di situ seni mengajarnya. Sesi pertama kami fokuskan pada Stata dasar. Bukan sekadar syntax, tapi cara berpikir: bagaimana membaca data, memahami struktur, dan tidak panik saat hasilnya “aneh”.
Sesi kedua adalah inti yang paling saya tunggu: eksplorasi data IFLS. Di sini peserta mulai menyadari bahwa IFLS bukan sekadar dataset, tapi cerita panjang tentang rumah tangga Indonesia—tentang keputusan belanja, pendidikan anak, kesehatan, dan kesejahteraan.
Salah satu diskusi yang menarik adalah soal bagaimana rumah tangga menentukan prioritas pengeluaran. Dari data mikro yang tampak sederhana, kita bisa membaca perilaku ekonomi keluarga secara jauh lebih dalam dan bertanggung jawab secara ilmiah.
IFLS Itu Rumit, Tapi Sangat Jujur
Bersama Bu Nurfala Safitri, M.E., kami mendampingi peserta membedah struktur IFLS yang terkenal “ramai”. Tapi justru di situlah kekuatannya. IFLS jujur. Ia tidak menyederhanakan realitas. Dan ketika peserta mulai bisa menghubungkan variabel, membersihkan data, lalu menarik pertanyaan risetnya sendiri—di situ saya merasa: oke, sesi ini berhasil.
Ilmu, Amal, dan Tanggung Jawab Akademik
Ada momen yang sangat membekas bagi saya: ketika sesi berakhir dan beberapa peserta menyampaikan terima kasih dengan kalimat yang sangat tulus. Bukan soal pujian, tapi tentang bagaimana ilmu dipandang sebagai amanah dan amal jariyah.
Sebagai pengajar dan peneliti, itu pengingat yang penting: kita tidak hanya mentransfer skill, tapi juga harapan.
Jalan Panjang Literasi Data
Bagi saya pribadi, kegiatan seperti ini menegaskan kembali mengapa Sekolah Stata harus terus jalan, meski pelan, meski kadang terseok.
Literasi data di Indonesia tidak bisa hanya bertumpu di kota besar. Ia harus sampai ke Tasikmalaya, ke kampus-kampus daerah, ke ruang-ruang diskusi yang jujur dan kritis.
Dan UNSIL memberi contoh yang baik: dosennya mau belajar, mau bertanya, dan mau mulai meneliti.
Terima kasih Tasikmalaya. Sampai jumpa di kolaborasi berikutnya.
Kalau institusi Anda ingin merancang pelatihan data serupa—praktis, berbasis riset, dan benar-benar menghasilkan satu ide penelitian—kami di Sekolah Stata selalu terbuka untuk berdiskusi.


Posting Komentar