Ketika Kepercayaan Datang Lebih Dulu daripada Proposal: Catatan tentang Pak Dekan Teguh Dartanto dan Sekolah Stata - Mas Rohman | Peneliti

Ketika Kepercayaan Datang Lebih Dulu daripada Proposal: Catatan tentang Pak Dekan Teguh Dartanto dan Sekolah Stata

Ketika Kepercayaan Datang Lebih Dulu daripada Proposal: Catatan tentang Pak Dekan Teguh Dartanto dan Sekolah Stata

Ada satu fase dalam hidup membangun Sekolah Stata yang tidak pernah saya rencanakan, tidak pernah saya pitch, dan tidak pernah saya siapkan dalam bentuk proposal bisnis. Fase itu bernama kepercayaan.

Awalnya Bukan Ruang Rapat, Tapi Rumah

Cerita ini tidak dimulai di ruang kampus, bukan di kafe dengan presentasi slide, dan bukan di forum investor. Cerita ini dimulai di rumah saya sendiri. Saat itu Pak Teguh Dartanto—yang saya kenal sebagai akademisi serius, Dekan FEB UI, dan sosok dengan integritas keilmuan yang kuat—berkunjung ke rumah. Tidak ada agenda investasi. Tidak ada diskusi valuasi. Tidak ada istilah angel investor di kepala saya. Beliau datang sebagai dosen, senior, dan manusia. Dan yang beliau lihat bukan hanya Sekolah Stata, tetapi kondisi keluarga saya, cara kami hidup, dan bagaimana pendidikan bukan sekadar proyek, melainkan bagian dari napas keseharian.

Yang Dinilai Bukan Angka, Tapi Niat

Dalam dunia startup, kita sering diajari bahwa yang dinilai investor adalah: traction, revenue, growth, scalability. Semua itu penting. Saya tidak menafikannya. Namun hari itu saya belajar satu hal yang lebih dalam: ada kepercayaan yang dibangun bukan dari angka, tapi dari kejujuran hidup. Pak Teguh tidak bertanya berapa omzet. Beliau lebih banyak mendengar. Mendengar cerita tentang: mengapa Sekolah Stata lahir, keresahan tentang kualitas riset dan literasi data, dan keinginan sederhana: membuat orang belajar statistik tanpa takut.

Dari Percakapan Manusia ke Keputusan Profesional

Keputusan beliau untuk menjadi angel investor tidak lahir dari satu pertemuan. Ia tumbuh dari proses saling memahami. Yang membuat saya tersentuh bukan semata investasinya, tetapi cara kepercayaan itu diberikan. Tidak ada tekanan. Tidak ada tuntutan berlebihan. Tidak ada janji kosong. Hanya satu pesan yang saya ingat betul (dan terus saya pegang):

“Jaga integritasnya. Pendidikan itu soal amanah.”

Kalimat itu jauh lebih berat dari sekadar target bisnis.

Angel Investor yang Datang sebagai Penjaga Nilai

Saya menyadari, tidak semua investor cocok untuk edutech. Dan tidak semua edutech layak didampingi oleh akademisi. Pak Teguh bukan hanya membawa dukungan finansial, tetapi legitimasi nilai. Bahwa Sekolah Stata: boleh kecil, asal jujur, boleh tumbuh pelan, asal konsisten, dan boleh berbeda, asal berpihak pada kualitas.

Dalam banyak diskusi setelahnya, beliau lebih sering bertanya “ini dampaknya apa?” daripada “ini untungnya berapa?”.

Pelajaran Besar: Tidak Semua Kepercayaan Bisa Dibeli

Pengalaman ini mengajarkan saya satu hal penting: kepercayaan tidak selalu datang karena kita terlihat sukses, tapi karena kita terlihat tulus. Di fase awal Sekolah Stata: sistem belum rapi, produk masih berkembang, pendapatan belum stabil.

Namun justru di fase itulah kepercayaan diuji—dan ternyata juga diberikan.

Penutup: Amanah yang Tidak Boleh Dikhianati

Setiap kali saya lelah, ragu, atau tergoda untuk mengambil jalan pintas, saya selalu ingat satu hal: Sekolah Stata bukan hanya milik saya. Ia lahir dari kepercayaan banyak orang—termasuk kepercayaan yang diberikan di ruang paling personal: rumah dan keluarga.

Menjadi edutech founder berarti membangun sistem. Tapi dipercaya oleh seorang guru dan akademisi berarti memikul amanah. Dan amanah itu tidak boleh dikhianati—oleh angka, oleh ego, maupun oleh waktu.