Transdisiplin Institute: Mengapa Kami Tidak Puas dengan Jurnal - Mas Rohman | Peneliti

Transdisiplin Institute: Mengapa Kami Tidak Puas dengan Jurnal

Transdisiplin Institute: Mengapa Kami Tidak Puas dengan Jurnal

Kami tidak anti jurnal. Kami menulis jurnal. Kami membaca jurnal. Kami paham betul pentingnya publikasi ilmiah dalam dunia akademik. Namun ada satu kegelisahan yang terus tumbuh dari waktu ke waktu: mengapa begitu banyak riset selesai di jurnal, tetapi tidak pernah selesai di kehidupan nyata? Dari kegelisahan itulah Transdisiplin Institute lahir.

Jurnal Itu Penting, Tapi Tidak Cukup

Dalam dunia akademik, jurnal sering diperlakukan sebagai tujuan akhir. Proposal, pengumpulan data, analisis, publikasi—lalu selesai. Masalahnya, di luar kampus, kehidupan tidak pernah berhenti di kesimpulan. Kemiskinan tidak membaca abstrak. Desa tidak hidup dari metodologi. Kebijakan publik tidak berubah hanya karena grafiknya signifikan. Kami tidak menolak jurnal. Kami hanya menolak menjadikan jurnal sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan riset.

Masalah Nyata Tidak Datang dalam Satu Disiplin

Hampir semua masalah sosial yang kami temui bersifat kompleks dan saling terkait. Kemiskinan bukan hanya soal pendapatan, pendidikan bukan hanya soal sekolah, narkotika bukan hanya soal hukum, dan pembangunan bukan hanya soal angka. Masalah-masalah ini berada di persimpangan ekonomi, budaya, kebijakan, agama, psikologi, dan konteks lokal. Jika riset dibaca hanya dari satu disiplin, yang terjadi bukan pemahaman, melainkan penyederhanaan berlebihan. Transdisiplin Institute berdiri dari kesadaran ini: realitas tidak pernah mono-disiplin, maka riset pun tidak boleh sempit.

Dari Data ke Makna, dari Makna ke Tindakan

Kami bekerja dengan data. Kami menghormati metode. Namun kami juga percaya bahwa angka tanpa makna bisa menyesatkan. Karena itu, riset di Transdisiplin Institute tidak berhenti di laporan. Data dibaca bersama cerita. Temuan didiskusikan dengan pemangku kepentingan. Hasil riset diterjemahkan menjadi rekomendasi. Tidak semua riset harus mengubah kebijakan nasional. Namun setiap riset setidaknya harus berniat kembali ke masyarakat yang datanya kita ambil.




Akademik Tidak Harus Jauh dari Kehidupan

Kami tidak ingin menjadi lembaga yang fasih berbicara di seminar, tetapi gagap ketika berhadapan dengan realitas lapangan. Bagi kami: akademisi boleh ragu, peneliti boleh belajar dari warga, teori boleh dikritik oleh pengalaman. Itu bukan kelemahan. Itu justru bentuk kejujuran ilmiah.

Mengapa Transdisiplin, Bukan Sekadar Multidisiplin?

Pendekatan multidisiplin sering kali membuat setiap disiplin berjalan sendiri, lalu digabungkan di akhir. Transdisiplin berbeda. Ia memaksa dialog sejak awal: sejak merumuskan masalah, sejak menentukan metode, dan sejak membaca hasil. Dalam proses ini, suara non-akademik—warga, praktisi, pendamping lapangan— dianggap sah sebagai bagian dari proses berpikir. Karena sering kali, mereka lebih dulu hidup di dalam masalah yang sedang kita teliti.

Penutup: Riset sebagai Tanggung Jawab Sosial

Kami tidak membangun Transdisiplin Institute untuk mengejar label unggul. Kami membangunnya untuk menjaga satu prinsip sederhana: riset adalah bentuk tanggung jawab sosial, bukan sekadar pencapaian akademik. Selama masih ada jarak antara kampus dan masyarakat, selama data diambil tapi suara warga diabaikan, selama jurnal selesai tapi masalah tetap ada—Transdisiplin Institute akan terus bertanya, terus gelisah, dan terus bekerja di ruang yang tidak selalu nyaman. Karena bagi kami, riset yang baik bukan hanya yang bisa dipublikasikan, tetapi yang berani kembali ke kehidupan nyata.