Sekolah Stata Bukan Tentang Stata, tapi Tentang Kesempatan - Mas Rohman | Peneliti

Sekolah Stata Bukan Tentang Stata, tapi Tentang Kesempatan

Sekolah Stata Bukan Tentang Stata, tapi Tentang Kesempatan

Banyak orang mengira Sekolah Stata adalah tempat belajar software. Ada juga yang menganggapnya sekadar kursus statistik atau econometrics. Aku tidak menyalahkan anggapan itu—namanya memang Sekolah Stata. Namun sejak awal aku membangunnya dengan keyakinan yang berbeda: Sekolah Stata bukan tentang Stata. Ia tentang kesempatan.

Kesempatan yang Tidak Pernah Datang dengan Mudah

Aku tumbuh di lingkungan di mana kesempatan tidak pernah datang rapi. Ia tidak hadir lewat jalur resmi, brosur, atau privilege akademik. Kesempatan justru datang dalam bentuk yang sederhana: kepercayaan, bantuan kecil, dan pintu yang dibuka di saat genting.

Dari situ aku belajar satu hal penting: banyak orang sebenarnya mampu, tetapi berhenti karena tidak diberi pintu masuk. Sekolah Stata lahir dari ingatan akan pintu-pintu yang dulu hampir tertutup itu.

Mengapa Bukan Sekadar Mengajar Stata?

Kalau tujuannya hanya mengajar software, Sekolah Stata sebenarnya tidak perlu ada. Tutorial tersedia di mana-mana, buku bisa diunduh, bahkan AI bisa menuliskan kodenya. Yang sering hilang bukan materinya, melainkan: rasa percaya diri, keberanian untuk mulai, teman berpikir, pembimbing yang sabar.

Banyak orang datang ke Sekolah Stata bukan karena tidak tahu apa-apa, melainkan karena terlalu lama merasa dirinya tidak pantas belajar data. Sekolah Stata hadir untuk mematahkan perasaan itu.

Kesempatan untuk Bertanya Tanpa Takut

Salah satu hal paling mahal dalam pendidikan bukan perangkat atau software, melainkan ruang aman untuk bertanya. Di Sekolah Stata, orang boleh bingung, boleh salah, dan boleh belajar pelan-pelan. Tidak ada tuntutan latar belakang tertentu untuk mulai. Karena aku tahu rasanya duduk di kelas tapi takut membuka mulut. Takut dianggap bodoh. Takut merasa tidak pantas berada di ruangan itu.

Sekolah Stata bukan ruang untuk pamer kepintaran, melainkan ruang untuk belajar tanpa rasa malu.

Kesempatan untuk Relevan dengan Hidup Nyata

Banyak ilmu terasa indah di jurnal, rumit di kelas, tetapi jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal hidup tidak pernah datang dalam bentuk soal ujian. Ia datang sebagai data kemiskinan, laporan desa, kebijakan yang membingungkan, dan skripsi yang hampir ditinggalkan di tengah jalan.

Sekolah Stata tidak menjanjikan jalan pintas, tetapi memberi alat agar orang bisa berjalan sendiri.

Penutup: Tentang Kesempatan yang Menular

Aku tidak membangun Sekolah Stata untuk menjadi besar dengan cepat. Aku membangunnya agar bermakna secara manusiawi. Jika hari ini ada satu orang yang kembali percaya diri untuk belajar, maka kesempatan itu sudah berpindah tangan.

Dan mungkin di situlah makna pendidikan yang paling langka: bukan soal ilmunya, tapi siapa yang diberi kesempatan untuk tumbuh.