Bangun Edutech dari Nol: Realita yang Jarang Dibahas
Saya sering bertemu orang yang ingin membangun edutech dengan satu kalimat optimistis: “Pendidikan itu pasarnya besar.” Kalimat itu tidak salah. Tapi juga tidak sepenuhnya jujur. Karena membangun edutech dari nol bukan soal pasar, melainkan soal seberapa rapi kita membangun sistem ketika semuanya masih serba manual.
1. Ide Besar Tidak Akan Jalan Tanpa Struktur Kecil
Di awal, Sekolah Stata bukan organisasi dengan banyak divisi. Ia hanya ide, niat baik, dan segelintir orang yang mau belajar sambil jalan. Tapi cepat atau lambat, saya sadar: edutech tidak boleh hidup hanya dari idealisme. Ia butuh struktur kerja, sekecil apa pun skalanya. Pelan-pelan, kami mulai membangun pembagian peran yang sederhana tapi fungsional.
2. Product Development: Dari Materi ke Solusi Nyata
Divisi pertama yang terasa paling krusial adalah product development. Di sinilah materi tidak lagi diperlakukan sebagai “bahan ajar”, tapi sebagai produk yang harus relevan, bisa dipakai, dan menyelesaikan masalah nyata. Kami belajar bahwa: konten pintar belum tentu berguna. Kode rapi belum tentu dipahami pengguna. Dan materi bagus bisa gagal jika tidak kontekstual. Product development di Sekolah Stata adalah proses terus-menerus mengubah apa yang kita tahu menjadi apa yang orang butuhkan.
3. Admin & Finance: Divisi yang Tidak Keren tapi Menyelamatkan
Tidak banyak yang ingin mengurus admin dan keuangan. Padahal, di sinilah edutech sering tumbang diam-diam. Invoice yang lupa dicatat, akses yang tidak terdokumentasi, arus kas yang hanya “dirasa-rasa”. Admin & finance mengajarkan kami disiplin paling mendasar: jujur pada angka, meskipun angkanya kecil. Tanpa ini, edutech hanya akan terlihat hidup di media sosial, tapi rapuh di belakang layar.
4. Content Creator: Membangun Kepercayaan, Bukan Sekadar Reach
Banyak orang mengira konten itu soal viral. Bagi kami, konten adalah soal kepercayaan. Divisi content creator di Sekolah Stata tidak sekadar membuat postingan, tapi menerjemahkan hal teknis jadi masuk akal, menjaga nada bicara agar tidak menggurui dan konsisten menyampaikan nilai yang sama. Konten adalah jembatan antara apa yang kami kerjakan dan apa yang publik pahami.
5. CRM: Merawat Relasi, Bukan Mengumpulkan Kontak
Salah satu kesalahan awal yang kami sadari adalah menganggap peserta sebagai “database”. CRM mengubah cara pandang itu. Peserta bukan angka. Mereka adalah relasi. Di sinilah kami belajar: mencatat interaksi, merespons pertanyaan dengan empati, dan memahami perjalanan belajar masing-masing orang. Edutech yang baik bukan yang paling banyak penggunanya, tapi yang ingat siapa penggunanya.
6. Sales: Menjual Tanpa Mengkhianati Nilai
Kata “sales” sering terdengar kotor di dunia pendidikan. Saya dulu juga berpikir begitu. Tapi realitanya, tanpa sales, edutech tidak akan bertahan. Di Sekolah Stata, sales bukan tentang memaksa orang membeli, tapi tentang menjelaskan nilai dengan jujur, memastikan produk memang cocok, dan berani berkata “tidak” jika tidak relevan. Menjual dengan nurani ternyata lebih sulit, tapi jauh lebih berkelanjutan.
7. Struktur Itu Fleksibel, Nilai Harus Konsisten
Semua divisi ini tidak langsung sempurna. Banyak peran yang tumpang tindih. Banyak orang merangkap. Tapi justru di situ Sekolah Stata belajar: struktur boleh berubah, nilai tidak boleh goyah. Nilai untuk: berbasis data, berpikir kritis, dan tetap membumi.
Penutup: Edutech Itu Dibangun, Bukan Dikhayalkan
Membangun edutech dari nol mengajarkan saya bahwa mimpi besar hanya akan hidup jika ditopang kerja kecil yang konsisten. Produk, admin, konten, CRM, hingga sales—semuanya bukan sekadar divisi. Mereka adalah cara kami bertahan sambil terus belajar. Kalau hari ini Sekolah Stata masih kecil, itu bukan kegagalan. Itu proses. Dan selama kami masih mau belajar, merapikan sistem, dan jujur pada data, edutech bukan sekadar bisnis. Ia menjadi ruang tumbuh—bagi kami, dan semoga juga bagi mereka yang belajar bersama kami.

Posting Komentar