Pengalaman Menjadi Moderator Diseminasi Hasil Riset PRID Bappeda DKI Jakarta Oleh Muhammad Abdul Rohman - Mas Rohman | Peneliti

Pengalaman Menjadi Moderator Diseminasi Hasil Riset PRID Bappeda DKI Jakarta Oleh Muhammad Abdul Rohman

Pengalaman Menjadi Moderator Diseminasi Hasil Riset PRID Bappeda DKI Jakarta

Oleh: Muhammad Abdul Rohman
Peneliti & Pengajar Sekolah Stata


Pada Kamis, 4 Desember 2025, saya mendapat kehormatan menjadi moderator dalam acara Diseminasi Hasil Riset PRID Bappeda DKI Jakarta. Acara berlangsung dari pagi hingga sore, dengan dua sesi yang sama-sama strategis bagi masa depan kebijakan Jakarta.


Sesi 1 (08.00–12.00): Optimalisasi Pengadaan Penelitian untuk Kebijakan Berbasis Bukti

Poin penting yang saya fasilitasi dalam diskusi antara lain:

  • Tantangan proses pengadaan penelitian di pemerintah agar lebih efektif.
  • Perlunya evidence-based policy sebagai standar pengambilan keputusan.
  • Kesenjangan antara hasil riset dan praktik kebijakan di lapangan.
  • Pentingnya kapasitas peneliti dan birokrasi dalam memahami metode riset yang benar.
  • Rekomendasi memperkuat ekosistem riset daerah agar kebijakan lebih tepat sasaran.

Sebagai moderator, saya mencoba menjaga alur diskusi tetap tajam namun mudah dipahami.








Sesi 2 (13.00–16.00): Menggerakkan Diplomasi Kota dan Kolaborasi Global Jakarta melalui Jejaring Diaspora

Poin utama diskusi mencakup:

  • Posisi Jakarta sebagai global city dan pentingnya diplomasi kota.
  • Potensi jejaring diaspora Indonesia sebagai mitra strategis pembangunan.
  • Pentingnya inovasi dan kolaborasi internasional untuk mempercepat transformasi kota.
  • Strategi menghubungkan diaspora dengan program-program daerah.
  • Peran PRID dalam merancang inisiatif kolaborasi lintas negara.

Sesi ini terasa lebih visioner, membuka gambaran tentang masa depan Jakarta yang lebih global dan terhubung.





Refleksi Singkat

Menjadi moderator di acara ini adalah pengalaman berharga. Saya menyaksikan langsung bagaimana riset, kebijakan, dan kolaborasi global bisa saling menguatkan. Bagi saya sebagai peneliti dan pengajar, ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan berbasis data tidak hanya tentang angka, tetapi juga tentang masa depan kota dan masyarakat.