Dari Sekolah Stata ke Transdisiplin: Evolusi Cara Berpikir Saya - Mas Rohman | Peneliti

Dari Sekolah Stata ke Transdisiplin: Evolusi Cara Berpikir Saya

Dari Sekolah Stata ke Transdisiplin: Evolusi Cara Berpikir Saya

Ada satu fase dalam hidup yang pelan-pelan mengubah cara saya memandang ilmu. Bukan karena saya menemukan teori baru. Bukan juga karena membaca jurnal kelas Q1. Tapi karena realitas di lapangan terus membenturkan saya pada satu fakta sederhana: ilmu yang rapi belum tentu cukup.

Sekolah Stata: Tempat Saya Belajar Disiplin

Sekolah Stata lahir dari kegelisahan yang sangat teknis. Saya melihat banyak mahasiswa, peneliti, bahkan dosen—punya niat riset yang baik, tapi terhambat oleh satu hal: alat. Statistik terasa angker. Stata terasa elit. Data terasa jauh dari kehidupan.

Di Sekolah Stata, saya ingin memecah ketakutan itu. Ilmu statistik harus bisa dipelajari siapa pun, asal mau duduk dan berproses. Di sini saya belajar satu hal penting: disiplin berpikir. Data mengajarkan saya untuk: tidak asal menyimpulkan, tidak emosional terhadap angka, dan tidak memaksakan cerita pada data. Sekolah Stata membesarkan saya secara metodologis. Ia membentuk tulang punggung cara berpikir saya hari ini.

Tapi justru dari sini, kegelisahan berikutnya muncul.

Ketika Statistik Tidak Cukup

Semakin sering terlibat riset kebijakan, pendampingan institusi, dan kerja lapangan, saya mulai sadar: Masalah nyata tidak pernah datang sendirian. Kemiskinan tidak berdiri sendiri. Ia bertaut dengan pendidikan, kesehatan, budaya, akses, bahkan trauma. Penyalahgunaan narkoba bukan hanya soal hukum. Ia menyentuh keluarga, ekonomi, ruang sosial, dan harapan hidup.

Kalau saya hanya membawa statistik, sering kali saya: bisa menjelaskan apa yang terjadi, tapi gagap menjawab kenapa dan lalu harus bagaimana. Di titik ini saya sadar, disiplin ilmu justru bisa menjadi batas, bukan jembatan.

Transdisiplin: Bukan Lompat Jauh, Tapi Lanjutan Alami

Banyak orang mengira transdisiplin itu loncatan ekstrem. Padahal bagi saya, ia adalah lanjutan paling logis dari perjalanan Sekolah Stata. Kalau Sekolah Stata mengajarkan saya ketepatan, Transdisiplin mengajarkan saya kerendahan hati.

Kerendahan hati untuk mengakui: satu model tidak cukup, satu variabel tidak selalu menjelaskan manusia, satu fakultas tidak bisa menyelesaikan masalah bangsa. Transdisiplin bukan anti-disiplin. Ia justru berdiri di atas disiplin yang kuat, lalu melampauinya. Statistik tetap saya pakai. Ekonomi tetap saya hormati. Sosiologi, antropologi, psikologi, kebijakan publik—semua duduk sejajar. Bukan saling mengalahkan, tapi saling menerangi.

Dari Mengolah Data ke Memahami Manusia

Perubahan terbesar bukan pada metode, tapi pada cara mendengar. Di Sekolah Stata, saya mendengar data. Di Transdisiplin, saya belajar mendengar manusia di balik data. Angka pengangguran bukan sekadar persentase. Ia adalah cerita tentang lulusan yang pulang kampung dengan kepala tertunduk. Angka putus sekolah bukan hanya statistik. Ia adalah keputusan berat orang tua antara makan hari ini atau sekolah esok hari.

Di sini saya paham, ilmu yang tidak menyentuh manusia, cepat atau lambat akan kehilangan makna.

Evolusi Ini Masih Berjalan

Sekolah Stata tidak saya tinggalkan. Ia tetap rumah metodologi saya. Transdisiplin bukan pengganti, tapi ruang tumbuh. Hari ini saya berdiri di antara: dunia akademik yang menuntut presisi, dan dunia nyata yang menuntut empati.

Mungkin posisi ini tidak selalu nyaman. Kadang dianggap terlalu praktis untuk akademisi. Kadang dianggap terlalu teoritis untuk praktisi. Tapi justru di ruang itulah saya merasa hidup. Karena bagi saya, ilmu seharusnya tidak hanya benar, tapi juga berguna.