Aku Membangun Sekolah Stata karena Pernah Ditolong Guru - Mas Rohman | Peneliti

Aku Membangun Sekolah Stata karena Pernah Ditolong Guru

Aku Membangun Sekolah Stata karena Pernah Ditolong Guru

Ada satu alasan yang jarang aku ceritakan secara terbuka kenapa Sekolah Stata tetap aku lanjutkan, meskipun secara bisnis kadang terseok-seok dan melelahkan. Alasannya sederhana, tapi sangat personal: aku pernah ditolong guru, ketika sistem pendidikan tidak benar-benar bisa menolongku.

Aku tumbuh dari keluarga yang hidupnya jauh dari kata cukup. Sekolah bagiku sejak kecil bukan sekadar tempat belajar, tapi ruang penuh kecemasan: takut tidak bisa bayar, takut diminta iuran, takut tidak boleh ikut kegiatan. Banyak fase di hidupku di mana sekolah terasa seperti pintu setengah terbuka—boleh masuk, tapi jangan terlalu berharap.

Namun di tengah sistem yang kaku itu, aku bertemu manusia-manusia luar biasa: guru.

Guru yang Tidak Bertanya “Kamu Punya Uang?”

Aku masih ingat beberapa momen yang sampai hari ini tidak pernah hilang dari ingatanku. Ada guru yang diam-diam membayarkan LKS-ku. Ada guru yang melunasi biaya study tour ketika aku sudah berniat tidak ikut. Ada pula guru yang meminjamkan buku anaknya sendiri karena tahu orang tuaku belum tentu mampu membelinya.

Yang membuatku terharu bukan hanya bantuannya, tapi caranya. Mereka tidak pernah bertanya panjang lebar tentang kondisi keluargaku. Tidak menghakimi. Tidak membuatku merasa kecil. Mereka bertindak sebagai pendidik, bukan petugas administrasi.

Dari situ aku belajar satu hal penting: pendidikan hidup bukan karena kurikulum, tapi karena empati manusia di dalamnya.

Baca Juga : Transdisiplin Institute: Mengapa Kami Tidak Puas dengan Jurnal

Sekolah Stata Lahir dari Rasa Hutang Budi

Banyak orang mengira Sekolah Stata lahir dari ide besar atau strategi bisnis yang matang. Jujur saja, tidak sepenuhnya begitu. Sekolah Stata lahir dari rasa hutang budi.

“Kalau dulu aku tidak ditolong guru-guruku, aku akan jadi siapa hari ini?”

Mungkin aku berhenti sekolah lebih awal. Mungkin aku bekerja tanpa pernah percaya diri pada kemampuan berpikirku. Mungkin aku tidak pernah berani menyentuh dunia riset dan data.

Maka ketika aku mulai mengajar dan mendampingi mahasiswa serta dosen, satu prinsip itu selalu aku pegang: jangan ulangi kerasnya sistem yang pernah hampir menjatuhkanku.

Sekolah Stata Tidak Dibangun untuk Orang yang Sudah Siap

Sekolah Stata sejak awal tidak aku desain untuk orang yang sudah mapan secara akademik, punya perangkat mahal, dan akses penuh. Justru sebaliknya. Tempat orang bingung tapi mau belajar Ruang aman untuk bertanya tanpa takut dianggap bodoh Jembatan bagi mereka yang merasa tertinggal tapi tidak menyerah Karena dulu, aku adalah orang itu. Aku tahu rasanya ingin belajar tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Merasa ilmu di kampus terlalu jauh dari realitas. Merasa rendah diri karena tidak berasal dari lingkungan unggulan.

“Kamu tidak sendirian. Aku pernah di posisimu.”


Baca Juga : Bangun Edutech dari Nol: Realita yang Jarang Dibahas 

Dari Ditolong, ke Menolong

Aku tidak pernah bercita-cita menjadi penyelamat pendidikan. Aku hanya ingin melakukan hal kecil yang dulu dilakukan guruku padaku: membuka pintu, memberi kesempatan, dan tidak mempersulit orang yang hidupnya sudah sulit.

Kalau hari ini Sekolah Stata bisa membantu satu orang memahami data, mendampingi satu dosen menyelesaikan riset, atau membuat satu mahasiswa kembali percaya diri, itu sudah cukup bagiku. Karena aku tahu, satu pertolongan kecil bisa mengubah lintasan hidup seseorang.




Penutup: Pendidikan Itu Menular

Sekolah Stata bukan sekadar institusi. Ia adalah rantai kebaikan yang panjang. Dulu guruku menolongku. Hari ini aku mencoba meneruskan semampuku. Besok, semoga mereka yang pernah belajar di Sekolah Stata melakukan hal yang sama pada orang lain.

Dan mungkin, di situlah makna pendidikan yang paling jujur: bukan mencetak orang pintar, tapi melahirkan manusia yang ingat pernah ditolong.