Perjuangan S2, Sekolah Stata, dan Rasa Lelah yang Justru Menghidupkan - Mas Rohman | Peneliti

Perjuangan S2, Sekolah Stata, dan Rasa Lelah yang Justru Menghidupkan

Perjuangan S2, Sekolah Stata, dan Rasa Lelah yang Justru Menghidupkan

Ada fase dalam hidup yang rasanya capek banget, tapi anehnya bikin nagih. Itu yang sedang saya jalani sekarang. Saya masih sekolah S2 di bidang statistik. Di saat yang sama, saya juga sedang membangun Sekolah Stata—pelan-pelan, jatuh-bangun, dengan segala keterbatasan.




Jujur, ini bukan fase yang mudah. Ada hari-hari di mana kepala penuh teori, badan lelah karena urusan operasional, dan hati diuji oleh pertanyaan paling mendasar: “Kenapa saya memilih jalan ini?” Tapi justru di titik itu, saya merasa hidup.

Nuntut Ilmu, Lalu Menularkannya

Bagi saya, sekolah bukan sekadar mengejar gelar. Saya datang ke kampus untuk nuntut ilmu, bukan hanya lulus. Ilmu statistik itu luas, dalam, dan sering kali terasa dingin—penuh simbol, rumus, dan asumsi. Tapi di balik itu, ada potensi besar untuk menjelaskan kehidupan.

Yang saya lakukan sederhana (walaupun praktiknya tidak sederhana):

Apa yang saya pelajari hari ini, saya coba tularkan ke orang lain secepat mungkin. Caranya? Lewat kelas-kelas di Sekolah Stata. Bukan karena saya paling pintar. Justru karena saya masih belajar. Dan orang yang masih belajar biasanya paling ingat bagian mana yang membingungkan, bagian mana yang bikin frustrasi, dan bagian mana yang tidak pernah benar-benar dijelaskan di kelas.

Ini Bukan Soal “Mencuri Ilmu”

Saya ingin menegaskan satu hal penting. Sekolah Stata bukan tempat menyalin mentah-mentah apa yang diajarkan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis universitas. Kampus punya peran mulia: membangun fondasi keilmuan, logika akademik, dan disiplin berpikir. Saya sangat menghormati itu. Tapi dari pengalaman saya duduk di bangku kuliah, ada celah yang sering tertinggal:

  • Bagaimana teori dipakai di data nyata
  • Bagaimana riset benar-benar dimulai dari nol
  • Bagaimana error dihadapi, bukan dihindari
  • Bagaimana bingung itu dinormalisasi, bukan ditutupi

Di situlah Sekolah Stata berdiri. Celah yang Tidak Banyak Dibahas di Kampus

Saya menemukan bahwa banyak mahasiswa, dosen muda, bahkan peneliti, sebenarnya tidak kekurangan teori. Mereka kekurangan:

  • sesi praktik yang benar-benar dipandu
  • sesi pendampingan tanpa rasa dihakimi
  • sesi memahami data secara komprehensif, bukan sekadar “pokoknya jalan”

Di kampus, waktu terbatas. Silabus padat. Target akademik menekan. Tidak semua kebingungan bisa dibahas tuntas. Sekolah Stata mencoba masuk di ruang itu. Bukan menggantikan kampus. Tapi melengkapinya.

Praktik, Pendampingan, dan Memudahkan yang Sulit

Filosofi sederhana yang saya pegang di Sekolah Stata:

Ilmu yang sulit bukan untuk ditakuti, tapi untuk dimanusiakan.

Maka lahirlah:

  • Sesi praktik: bukan contoh main-main, tapi data beneran
  • Sesi pendampingan: bukan cuma “ini salah”, tapi “kenapa bisa salah”
  • Sesi pemahaman: bukan hafalan, tapi alur berpikir

Saya ingin peserta merasa, “Oh, ternyata statistik bisa masuk akal ya.” Dan lucunya, proses mengajar ini justru membuat saya lebih paham saat kembali ke bangku S2. Mengajar memaksa saya jujur pada diri sendiri: bagian mana yang benar-benar saya pahami, dan bagian mana yang selama ini cuma saya hafalkan.

Lelah, Tapi Ada Maknanya

Tidak saya pungkiri, menjalani S2 sambil membangun Sekolah Stata itu melelahkan. Secara fisik, mental, dan finansial. Tapi ada kepuasan yang sulit dijelaskan saat:

  • peserta bilang akhirnya paham
  • dosen merasa lebih percaya diri mengolah data
  • mahasiswa berani mulai risetnya sendiri

Di titik itu, lelah berubah jadi makna. Saya sadar, jalan ini panjang. Sekolah Stata masih kecil. Saya pun masih murid. Tapi mungkin justru di sanalah kekuatannya: murid yang mengajak murid lain untuk berani belajar bersama.

Penutup: Ilmu yang Hidup Itu Ditularkan

Saya percaya satu hal: Ilmu yang tidak ditularkan, lama-lama akan mati di kepala sendiri. Karena itu, selama saya masih diberi kesempatan belajar, saya akan terus berbagi. Bukan sebagai orang yang paling tahu, tapi sebagai orang yang sedang berjalan—tersandung, bangkit, lalu mengajak yang lain ikut melangkah.

Berat? Iya. Nagih? Banget. Dan sejauh ini, saya belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk berhenti.

— Rohman