Aku Keluar sebagai Peneliti dari Lembaga Demografi FEB UI Bukan untuk Meninggalkan Ilmu, Tapi untuk Menghidupi Orang
Aku Keluar sebagai Peneliti dari Lembaga Demografi FEB UI Bukan untuk Meninggalkan Ilmu, Tapi untuk Menghidupi Orang
Keputusan keluar sebagai peneliti dari Lembaga Demografi FEB UI bukan keputusan spontan. Bukan juga keputusan emosional. Itu keputusan yang lahir dari kegelisahan yang dipikirkan lama—dan ditimbang dengan tenang.
Banyak yang bertanya: “Kenapa keluar dari lembaga sekelas LD FEB UI?” “Bukannya itu tempat ideal buat peneliti?” Jawabanku satu. Dan sejak awal, tidak pernah berubah. Aku ingin menghidupi orang.
Aku Berutang Banyak pada Lembaga Demografi FEB UI
Aku tidak pernah menutup mata pada apa yang aku dapatkan di Lembaga Demografi FEB UI. Di sana aku belajar: berpikir demografis secara utuh, menghormati data, berhati-hati dalam menyimpulkan, disiplin metodologi dan etika akademik. LD FEB UI membentuk caraku melihat angka—bukan sekadar variabel, tapi representasi kehidupan manusia. Keputusan keluar bukan penolakan, tapi justru lahir dari apa yang kupelajari di sana.
Kegelisahan Itu Sederhana: Ilmu Terlalu Sering Berhenti di Meja
Semakin lama berkecimpung dalam riset, aku semakin sering bertanya dalam hati:
“Setelah laporan ini selesai, siapa yang hidup karenanya?”
Banyak riset yang sangat rapi, sangat kuat, sangat valid. Tapi berhenti di: rak laporan, seminar tertutup, diskusi terbatas. Aku tidak menyalahkan itu. Dunia akademik memang perlu ruang seperti itu. Tapi aku sadar, aku ingin ruang yang lain.
Aku Tidak Ingin Ilmu Hanya Menghidupi CV
Aku ingin ilmu: menjadi pekerjaan, membuka penghasilan, menciptakan sistem dan memberi napas ke orang lain. Aku ingin melihat: riset berubah jadi kelas, data berubah jadi keputusan, pengetahuan berubah jadi penghidupan. Dan untuk itu, aku harus melangkah keluar.
Keluar dari LD FEB UI Bukan Berhenti Jadi Peneliti
Keluar dari Lembaga Demografi FEB UI bukan berarti: berhenti berpikir ilmiah, berhenti kritis, berhenti bertanggung jawab pada data. Justru sebaliknya. Aku membawa cara berpikir peneliti ke: dunia pendidikan, dunia usaha, dunia kebijakan, dan dunia pelatihan dengan satu prinsip tambahan: hasilnya harus menghidupi orang.
Menghidupi Orang Itu Tanggung Jawab yang Nyata
Tidak ada gelar untuk orang yang menggaji orang lain. Tidak ada indeks sitasi untuk sistem yang membuat orang bertahan hidup. Yang ada: tanggung jawab bulanan, kecemasan soal keberlanjutan, keputusan sulit saat pendapatan tidak pasti. Tapi di situlah aku menemukan makna. Ketika satu orang: bisa terus belajar, bisa terus bekerja, bisa tetap hidup dengan bermartabat, aku tahu, keputusanku tidak keliru.
Urip Kudu Urup
Ada pepatah Sunan Kalijaga yang selalu aku pegang:
Urip kudu urup. Hidup itu harus menyala.
Buatku, menyala itu bukan soal jabatan, bukan soal nama besar, bukan soal publikasi. Menyala itu ketika: hidup kita memberi terang, ilmu kita memberi daya, usaha kita memberi kehidupan.
Penutup: Satu Motivasi, Tidak Lebih
Kalau semua ini harus diringkas:
Aku keluar sebagai peneliti dari Lembaga Demografi FEB UI untuk membuat usaha, karena aku ingin menghidupi orang. Tidak lebih. Tidak kurang. Dan selama api itu masih menyala, aku akan menjaganya. Karena hidup, kudu urup.
— Muhammad Abdul Rohman
Posting Komentar