Dari Kelas ke Riset: Lahirnya TD Institute - Mas Rohman | Peneliti

Dari Kelas ke Riset: Lahirnya TD Institute

Dari Kelas ke Riset: Lahirnya TD Institute

Di satu titik perjalanan Sekolah Stata, aku sadar: kelas saja tidak cukup untuk menopang mimpi yang lebih panjang. Bukan karena kelasnya gagal. Justru karena kelas itu hidup—tapi hidupnya fluktuatif. Di situlah muncul satu kebutuhan baru: ruang riset yang serius, fleksibel, dan lintas batas disiplin. Dan dari kebutuhan itu, lahirlah lembaga riset transdisiplin: Transdisciplinary Institute (TD Institute).


TD Institute Bukan Gaya-Gayaan Akademik

Aku sengaja pakai kata transdisiplin, bukan sekadar multidisiplin. Karena masalah di dunia nyata: kemiskinan, pendidikan, ketenagakerjaan, kebijakan publik, teknologi itu nggak pernah datang dalam satu disiplin. TD Institute lahir bukan untuk: sekadar bikin laporan, sekadar proyek, sekadar publikasi. Tapi untuk menjembatani data, konteks, kebijakan, dan manusia. Dan iya—jujur saja— TD Institute juga bagian dari strategi subsidi silang.


Subsidi Silang Lagi, Bukan Serakah Tapi Bertahan

Pola yang sama seperti Sekolah Stata: kelas institusi menopang kelas reguler, riset menopang edukasi, proyek menopang ruang belajar. TD Institute membantu: Sekolah Stata tetap jalan, PT Teknodata tetap kokoh, tim tetap hidup, ide tetap bernapas. Bukan untuk menumpuk. Tapi supaya tidak ada yang mati pelan-pelan karena idealisme saja.


PT Teknodata: Badan, Bukan Jiwa

Aku sering bilang ke tim: “PT Teknodata itu badan. Jiwa kita ada di Sekolah Stata dan TD Institute.” Tapi badan itu penting. Karena tanpa badan: kontrak nggak bisa jalan, tim nggak bisa digaji, sistem nggak bisa dirawat. PT Teknodata memastikan: usaha tetap legal, struktur tetap rapi, dan ekosistem ini punya tulang punggung. Supaya: Sekolah Stata bisa tetap membumi, TD Institute bisa tetap kritis tanpa harus selalu tunduk pada logika proyek semata.


Kenapa Aku Keluar dari Lembaga Demografi FEB UI?

Ini pertanyaan yang sering datang, pelan tapi konsisten. Jawabannya sederhana, tapi berat: aku ingin menggerakkan, bukan hanya menganalisis. Di Lembaga Demografi FEB UI, aku belajar banyak: disiplin berpikir, ketelitian data, etika riset, standar akademik. Tapi di satu titik, aku merasa: “Aku ingin hasil riset ini hidup, bukan berhenti di rak laporan.” Aku ingin: riset dipakai, data bicara ke kebijakan, angka menyentuh kehidupan. Dan untuk itu, aku harus keluar dari zona aman.


Urip Kudu Urup

Ada satu pepatah yang selalu aku pegang, dari Sunan Kalijaga: “Urip kudu urup.” Hidup itu harus menyala. Buatku, menyala itu bukan soal viral. Bukan soal jabatan. Bukan soal besar. Menyala itu ketika: usaha kita menghidupi orang lain, ilmu kita membuat orang berdaya, sistem yang kita bangun bikin orang tumbuh. Sekolah Stata, TD Institute, PT Teknodata— semuanya cuma alat. Tujuannya satu: menghidupkan kehidupan.


Penutup: Ini Bukan Ekspansi, Ini Ekosistem

Yang terjadi bukan: “Rohman nambah lini bisnis.” Tapi: membangun ekosistem supaya semua bisa saling menopang. Ketika kelas sepi, riset jalan. Ketika proyek berat, kelas tetap hidup. Ketika idealisme diuji, struktur menahan. Dan selama api itu masih menyala— meski kecil, meski kadang redup— aku akan tetap jaga. Karena hidup, kudu urup.
— Muhammad Abdul Rohman