Ketika Data, Usaha, dan Kemanusiaan Bertemu - Mas Rohman | Peneliti

Ketika Data, Usaha, dan Kemanusiaan Bertemu

Ketika Data, Usaha, dan Kemanusiaan Bertemu

Oleh: Muhammad Abdul Rohman

Ada satu momen yang selalu membuat saya berhenti sejenak di tengah kesibukan membangun usaha dan mengurus kelas: ketika melihat langsung bagaimana bantuan, sekecil apa pun, bisa berarti besar bagi orang lain.

Beberapa waktu lalu, kami di PT Teknodata Inovasi Indonesia dan Sekolah Stata menyalurkan donasi untuk korban banjir di Sumatera Utara melalui Dompet Dhuafa. Secara angka, mungkin terlihat sederhana—sekitar Rp 4,8 juta. Tapi bagi saya pribadi, ini bukan soal nominal. Ini soal amanah, niat, dan keberlanjutan nilai.

Dari Kelas, Klien, Lalu Sampai ke Korban Banjir

Yang sering tidak terlihat oleh publik adalah: dana ini bukan uang “jatuh dari langit”. Ia berasal dari kepercayaan para klien, peserta kelas, dan orang-orang yang memilih belajar, berdiskusi, dan tumbuh bersama Sekolah Stata. Setiap kali ada transaksi, kelas berjalan, atau proyek riset selesai, saya selalu mengingat satu hal: uang ini membawa tanggung jawab sosial. Karena itu, sejak awal kami berkomitmen bahwa sebagian dari aktivitas usaha harus kembali ke masyarakat. Tidak selalu dalam bentuk program besar. Kadang cukup dengan memastikan bahwa ketika ada musibah, kita tidak berpaling.

Transparansi Itu Bukan Gimmick

Saya tahu, hari ini publik semakin kritis. Donasi tanpa laporan hanya akan melahirkan kecurigaan. Maka kami memilih jalur yang jelas: disalurkan resmi melalui Dompet Dhuafa, dilengkapi bukti setoran, dokumentasi penyaluran, dan laporan penggunaan dana. Bukan karena ingin terlihat baik. Tapi karena kepercayaan tidak boleh dikhianati. Saya pribadi percaya, transparansi bukan sekadar kewajiban administratif. Ia adalah bagian dari akhlak dalam berusaha.

Usaha Tidak Harus Menunggu Kaya untuk Peduli

Ada anggapan bahwa berbagi hanya pantas dilakukan ketika bisnis sudah besar dan mapan. Saya tidak sepakat. Sekolah Stata sendiri masih hidup dalam dinamika: kadang kelas penuh, kadang sepi. kadang pendapatan stabil, kadang fluktuatif. Tapi justru di situ nilai berbagi diuji. Apakah kita menunggu “cukup”, atau bergerak dengan apa yang ada? Bagi saya, berbagi adalah cara menjaga nurani tetap hidup di tengah target dan angka.

Menghidupkan Nilai “Urip Kudu Urup”

Ada satu pepatah Jawa yang sejak lama melekat dalam hidup saya: urip kudu urup — hidup itu harus memberi nyala. Mendirikan usaha, membangun edutech, membuat lembaga riset—semuanya pada akhirnya kembali ke satu pertanyaan sederhana: apakah kehadiran kita membuat hidup orang lain sedikit lebih terang? Kalau jawabannya iya, meski kecil, maka usaha itu layak dilanjutkan.

Terima Kasih untuk yang Diam-Diam Berkontribusi

Tulisan ini bukan untuk memuji diri sendiri. Justru sebaliknya, ini adalah ucapan terima kasih untuk banyak orang yang mungkin tidak pernah muncul di poster atau dokumentasi: klien yang percaya, peserta kelas yang belajar dengan tulus, tim kecil yang bekerja tanpa sorotan, dan semua yang menitipkan amanah lewat Sekolah Stata.

Semoga sedikit yang kita lakukan menjadi penguat bagi saudara-saudara kita yang sedang diuji oleh banjir. Dan semoga kami tetap dijaga untuk tidak lupa: bahwa usaha sejati bukan hanya soal tumbuh, tapi juga tentang memberi hidup.

— Muhammad Abdul Rohman