Ada Cahaya di Kelas Institusi - Mas Rohman | Peneliti

Ada Cahaya di Kelas Institusi

Ada Cahaya di Kelas Institusi

Di tengah pendapatan kelas reguler yang naik-turun—kadang penuh, kadang sepi—aku mulai sadar satu hal penting: Sekolah Stata butuh penyangga. Bukan untuk jadi besar cepat. Tapi supaya bisa bernapas lebih panjang. Dan dari situlah, pelan-pelan, muncul cahaya dari kelas institusi.


Kelas Institusi Bukan Jalan Pintas, Tapi Jalan Nafas

Awalnya aku nggak pernah berpikir Sekolah Stata akan banyak main di kelas institusi. Fokus awalku jelas: kelas reguler publik mahasiswa, dosen, peneliti—orang-orang yang datang karena butuh, bukan karena proyek. Tapi realitanya, kelas reguler itu fluktuatif: tergantung waktu, tergantung musim, tergantung ekonomi, tergantung mood publik. Ada bulan rame. Ada bulan sunyi. Dan jujur aja, idealime saja nggak cukup buat bayar server, tim, dan waktu.


Titik Balik: Ketika Institusi Datang dengan Kebutuhan Nyata

Perlahan, institusi mulai datang. Bukan datang dengan gaya:

bullet; “Kami mau formalitas pelatihan.”

Tapi datang dengan masalah nyata: tim nggak pede baca data laporan ada, tapi analisisnya kosong; tools ada, tapi dipakai seadanya; AI mulai masuk, tapi orangnya bingung.

Di situ aku sadar: apa yang diajarkan di kelas reguler, sebenarnya dibutuhkan institusi. Hanya konteksnya berbeda.


Sekolah Stata Tidak Berubah Arah, Tapi Memperluas Nafas

Ini bagian penting yang sering disalahpahami. Sekolah Stata tidak bertransformasi menjadi lembaga yang hanya fokus kelas institusi. Bukan. Yang terjadi adalah:

kelas institusi menjadi subsidi silang untuk kelas reguler. Artinya: ketika kelas reguler sepi, Sekolah Stata tetap hidup; ketika institusi jalan, publik tetap bisa belajar dengan harga masuk akal; ketika ada pemasukan stabil, kualitas kelas reguler bisa dijaga.

Kelas institusi bukan pengganti. Tapi penopang.


Subsidi Silang: Supaya Ilmu Tidak Jadi Barang Mewah

Aku selalu takut satu hal:

ilmu data jadi mahal dan eksklusif. Kalau Sekolah Stata hanya bergantung ke kelas reguler: harga harus naik, akses makin sempit, yang belajar cuma yang mampu.

Dengan kelas institusi: kelas reguler bisa tetap terjangkau; eksperimen metode belajar bisa jalan; konten gratis masih bisa diproduksi.

Secara sederhana: institusi bayar stabil, publik tetap bisa belajar. Ini bukan strategi bisnis dingin. Ini strategi bertahan sambil tetap adil.


Di Kelas Institusi, Aku Justru Belajar Banyak Hal

Ironisnya, dari kelas institusi aku belajar hal-hal yang nggak diajarkan di kampus: menjelaskan data ke non-akademisi, menyederhanakan tanpa menghilangkan makna, mengaitkan angka dengan keputusan nyata, menghadapi birokrasi, bukan hanya teori.

Dan semua pelajaran itu balik lagi ke kelas reguler. Mahasiswa dapat versi yang lebih membumi. Publik dapat penjelasan yang lebih kontekstual.


Jadi, Cahaya Itu Datang dari Mana?

Cahayanya bukan dari uang semata. Tapi dari kesadaran bahwa:

  • Sekolah Stata bisa hidup tanpa mengorbankan tujuan idealisme dan realitas
  • Bisa duduk satu meja kelas reguler dan institusi
  • Bisa saling menguatkan

Pendapatan mungkin belum sepenuhnya stabil. Tapi arahnya makin jelas.


Penutup: Bertahan Itu Kadang Butuh Strategi, Bukan Penyerahan Diri

Melanjutkan Sekolah Stata bukan soal keras kepala. Tapi soal mencari bentuk yang memungkinkan ia hidup lebih lama. Kelas institusi bukan tanda menyerah pada pasar. Tapi cara supaya kelas reguler tidak mati oleh pasar.

Dan selama Sekolah Stata masih bisa: ngajarin orang mikir pakai data, bikin statistik terasa manusiawi dan membuka akses belajar seluas mungkin, aku rasa jalan ini layak diteruskan.

— Muhammad Abdul Rohman